Chairul Tanjung, Si "Anak Singkong" Mengajarkan Pentingnya Bangkit dari Kegagalan

-

Chairul Tanjung dikenal sebagai salah satu pebisnis sukses asal Indonesia. Selain kesuksesan dalam berbisnis, pria yang kerap dipanggil CT ini juga menyajikan banyak cerita menarik untuk diperbincangkan.

Nama Chairul Tanjung sendiri mulai ramai dikenal public pada akhir tahun 2001. Dimana pada tahun tersebut, dia berhasil mendirikan Trans TV. Selanjutnya, berkat tangan dingin serta kegigihanya, Chairul Tanjung berhasil mendirikan CT Corp, tepat pada 1 Desember 2011.

CT Corp merupakan holding company yang membawahi banyak perusahaan yang memiliki brand-brand besar, seperti Bank Mega, Trans TV, Transmart, Trans Studio, Metro Department Store, Detik.com, The Trans Luxury Hotel dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, dibalik kesuksesannya, ternyata dia tidak mendapatkannya secara instan. Perjuangan, kerja keras dan jatuh bangun karena kegagalan pernah dia rasakan.

Baca juga: Sukses Di Usia Senja, Intip Kisah Inspiratif Kolonel Sanders Sosok Pendiri KFC!

Dalam sebuah acara yang diliput finance.detik.com, Chairul Tanjung mengaku pernah mengalami banyak sekali kegagalan dalam berbisnis. Bahkan menurutnya, gagal merupakan sahabat dan makanan sehari-harinya. "Gagal itu makanan sehari-hari saya. Bukan cuma saat memulai, sampai hari ini pun gagal adalah hal biasa. Cuma bagaimana kita menyikapi itu. Gagal bangkit lagi, gagal bangkit lagi, gagal bangkit lagi. Terus begitu sampai gagalnya bosan," tuturnya.

Baca juga: CT: Kegagalan Itu Sahabat Baik Saya

Bagaimana, tertarik mengenal lebih dalam dengan sosok pria yang memiliki julukan “anak singkong” ini? Dikutip dari beberapa sumber, yuk kita bahas satu persatu.

Chairul Tanjung, Dikenal dengan Sebutan “Anak Singkong”, Mengapa?

source : bambangpurnomohp

Chairul Tanjung kerap mengecap dirinya dengan sebutan “anak singkong”. Pertanyaannya, apa sih anak singkong itu? Dikutip sinday.id, secara harfiah, anak singkong merupakan istilah untuk menggambarkan pribadi yang kuno, status ekonomi rendah atau kerap juga diartikan sebagai anak kampung.

Lantas, apa korelasinya dengan sosok Chairul Tanjung? Usut punya usut, sejak kecil Chairul Tanjung sudah dijuluki sebagai anak singkong. Pasalnya, dia terlahir dari keluarga yang bisa dibilang cukup sederhana, ayahnya seorang wartawan sedangkan ibunya menghabiskan waktunya di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Terlebih pada masa orde baru, dimana, kantor tempat ayahnya bekerja ditutup paksa karena dianggap bertentangan dengan pemerintahan. Membuat perekonomian keluarganya semakin terpuruk. Kondisi ini membuat orang tuanya harus menjual rumah dan tinggal di kamar losmen yang sempit, kutip mancode.id.

Dari sinilah Chairul Tanjung disebut sebagai Si Anak Singkong karena memiliki latar belakang keluarga yang sangat sederhana. Selain itu, julukan tersebut semakin populer berkat buku biografi Chairul Tanjung yang berjudul “Chairul Tanjung Si Anak Singkong” yang diterbitkan pada 2012 oleh Kompas Gramedia.

Biografi Singkat Chairul Tanjung

source : iStock

Chairul Tanjung lahir di Jakarta pada tanggal 16 Juni 1962, dari pasangan Abdul Gafar Tanjung dan Halimah. Pendidikan Chairul Tanjung dihabiskan di Kota Jakarta. Dimana, sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan (SMP) dia habiskan di sekolah yang sama, yakni Sekolah Van Lith di bilangan Gunung Sahari, Jakarta.

Barulah pada jenjang SMA, dia melanjutkan di sekolah yang berbeda, yaitu SMAN 1 Jakarta, atau yang familiar disebut SMA Budi Utomo, Jakarta. Selanjutnya, dia berkuliah di Universitas Indonesia dengan mengambil Fakultas Kedokteran Gigi, dan lulus pada tahun 1987.

Jiwa bisnis Chairul Tanjung memang sudah terlihat sejak dibangku kuliah. Dimana, saat itu dia coba menjalankan bisnis kecil-kecilan dengan menjual buku kuliah, kaos hingga bekerja pada kios fotokopi. Tentu saja itu dia lakukan demi memenuhi kebutuhannya dan membiayai kuliahnya. Menariknya, meski membagi waktu untuk perkuliahan dan berbisnis, pada tahun 1985 dia mampu memperoleh predikat Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional lho!

Perjalanan Bisnis Seorang Chairul Tanjung

source : canva

Perjalanan bisnis Chairul Tanjung memang tidak berjalan mulus di awal. Pertama, dia menjual alat kedokteran dan alat laboratorium dengan cara membuka toko di bilangan Jakarta Pusat. Namun, terpaksa dia harus menutup usahanya karena mengalami kerugian yang cukup banyak.

Bukan Chairul Tanjung namanya kalau langsung putus asa saat mengalami kegagalan. Tak lama berselang, dia kembali membangun sebuah bisnis baru.

Baca juga: Kegagalan Saat Berbisnis, Ayo Bangkit Dengan 5 Tips Berikut Ini!

Bersama beberapa rekannya, dia memulai mendirikan PT Pariarti Shindutama. Dimana, aktivitas bisnisnya adalah ekspor sepatu anak ke beberapa negara.

Dengan modal 150 juta rupiah yang didapat dari pinjaman sebuah bank, usahanya terbilang sukses karena langsung mendapatkan pesanan sepatu dari Negara Italia dalam jumlah besar. Namun sayang, Chairul Tanjung memilih pisah dan mendirikan usaha sendiri karena perbedaan visi dan misi.

Perlahan tapi pasti, tepat pada tahun 1987, Chairul Tanjung mulai mendirikan PT Para Inti Holdindo atau Para Group. Yang mana bisnis utamanya di bidang pembuatan sepatu yang nantinya akan di export dan produksi genteng untuk kebutuhan industri perumahan dalam negeri, kutip office99.

Nah, Para Group lah yang menjadi cikal bakal berdirinya CT Corp. Karena kehandalan dan kemahirannya dalam mengelola bisnis, membuat perusahaannya terus berkembang hingga saat ini. Terdapat 3 sektor bisnis utama dibawah naungan CT Corp, yakni sektor keuangan, properti dan multimedia. Dan lebih dari 50 brand bisnis yang berada di bawah naungan CT Corp.

Baca juga: CT Corp

KawanKAWN, baru saja kita ulas perjalanan hidup Chairul Tanjung, dimana dia yang merupakan anak singkong mampu bermetamorfosa menjadi pebisnis sukses. Bahkan, ditulis voi.id, dia pernah mendapat predikat sebagai orang terkaya nomor 5 di Indonesia versi majalah forbes di tahun 2015.

Dari kisah ini bisa kita tarik benang merah, jika kegagalan bisa terjadi pada siapa saja, tidak mengenal gender, usia, status ekonomi dan juga  pendidikan. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menyingkapi dan juga merespon dari sebuah kegagalan. Apakah bangkit, atau malah terjerembab ke jurang yang lebih dalam. Yuk diskusikan di kolom komentar!