Ada sesuatu yang berbeda ketika menyeruput segelas kopi di tempat yang menyimpan aroma sejarah. Di tengah hiruk pikuk Pasar Glodok, Jakarta Barat, berdiri sebuah kedai sederhana dengan papan nama tua yang masih kokoh: Kopi Es Tak Kie. Kedai ini bukan sekadar tempat ngopi, melainkan saksi perjalanan panjang Jakarta dari masa kolonial hingga era digital saat ini.
Sejarah Panjang dari Masa ke Masa
Kopi Es Tak Kie berdiri sejak tahun 1927. Bayangkan, hampir satu abad lamanya kedai ini bertahan di tengah perubahan zaman. Nama “Tak Kie” berasal dari bahasa Tionghoa Hokkien yang berarti “kedamaian keluarga”. Filosofi itu terlihat dari suasana hangat yang masih terasa hingga kini.
Awalnya, kedai ini didirikan oleh perantau Tionghoa bernama Liong Kwie Tjong. Ia menjual kopi hasil racikan sendiri kepada para pekerja pelabuhan dan pedagang sekitar Glodok. Seiring waktu, reputasi kopinya menyebar dari mulut ke mulut, hingga akhirnya menjadi tempat nongkrong favorit lintas generasi.
“Setiap tegukan kopi di sini terasa seperti perjalanan waktu. Rasanya otentik, tidak dibuat-buat,”
ujar seorang pengunjung setia yang duduk di kursi kayu usang dengan tatapan nostalgik.

Aroma Tradisi yang Tak Pernah Pudar
Masuk ke dalam kedai, aroma kopi yang diseduh manual langsung menyeruak. Interiornya sederhana: meja marmer, kursi kayu, kipas angin berputar pelan, dan foto-foto hitam putih yang menceritakan masa lalu. Tak ada musik modern atau hiasan Instagramable, namun justru di situlah pesonanya.
Kopi Es Tak Kie menawarkan cita rasa kopi khas peranakan Tionghoa yang kuat dan pekat, namun tetap halus di lidah. Menu andalannya, tentu saja kopi es yang jadi legenda. Kopi diseduh menggunakan metode klasik dengan kain saring, lalu dicampur dengan susu kental manis dan es batu. Perpaduan rasa pahit, manis, dan segar seolah menyatu sempurna.
Kalimat sederhana di dinding bertuliskan “Es Tak Kie, sejak 1927” seakan menjadi simbol konsistensi mereka. Tak heran, banyak pelanggan yang datang bukan sekadar untuk minum kopi, tapi juga mencari rasa nostalgia.
Racikan yang Tidak Tergantikan
Rahasia kelezatan kopi Tak Kie terletak pada racikan bubuk kopi khas mereka yang dipertahankan secara turun-temurun. Biji kopinya berasal dari campuran robusta Lampung dan arabika dari dataran tinggi Sumatra. Semua diolah manual, tanpa mesin modern yang bisa mengubah karakter rasanya.
Sampai hari ini, proses penyeduhan masih sama seperti puluhan tahun lalu. Barista di sana tetap menggunakan teko logam tua, air mendidih dari ceret besar, dan kain saring yang diganti secara berkala.
“Rasa kopi terbaik justru lahir dari kesederhanaan dan konsistensi,”
begitu ucap seorang pelanggan senior sambil menatap uap panas dari cangkirnya.
Bagi sebagian orang, kopi ini mungkin terasa terlalu klasik. Namun justru di situlah daya tariknya. Tidak mengikuti tren kopi susu kekinian atau latte art yang sedang viral, Tak Kie tetap setia dengan karakternya.
Suasana yang Bikin Betah
Tak Kie bukan sekadar kedai kopi, tapi juga ruang sosial tempat berbagai kalangan bertemu. Dari pedagang, pengusaha, hingga wisatawan mancanegara yang penasaran dengan legenda ini.
Ruangannya kecil, hanya cukup untuk sekitar 30 orang. Namun keakraban antar pengunjung justru terasa begitu alami. Kadang, pembicaraan ringan soal bisnis atau politik bisa terjadi di meja mana pun.
Pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun menyapa pengunjung dengan ramah. Meski ramai, suasana tetap terasa santai. Inilah jenis tempat yang membuat orang ingin kembali, bukan karena dekorasi mewah, tapi karena kehangatan yang sulit ditemukan di kedai modern.
Menu yang Sederhana tapi Melekat di Hati
Selain kopi es dan kopi hitam, Tak Kie juga menyajikan berbagai pilihan minuman lain seperti teh tarik dan kopi susu panas. Untuk makanan, mereka menyediakan kudapan sederhana seperti roti panggang, lumpia, dan nasi campur khas Glodok.
Namun, daya tarik utama tetap terletak pada kesederhanaannya. Tidak ada menu musiman atau kreasi latte fancy. Semua disajikan sesuai tradisi.
Berikut beberapa menu favorit pelanggan yang selalu jadi incaran:
| Menu Favorit | Deskripsi Singkat | Harga Rata-rata |
|---|---|---|
| Kopi Es Tak Kie | Kopi legendaris dengan racikan robusta dan susu kental manis | Rp25.000 |
| Kopi Hitam Panas | Racikan klasik tanpa tambahan gula, rasa pekat dan tajam | Rp22.000 |
| Teh Susu Panas | Perpaduan teh hitam dan susu kental manis, lembut di lidah | Rp20.000 |
| Roti Bakar Cokelat | Roti lembut isi cokelat klasik, teman sempurna untuk ngopi | Rp18.000 |
Harga yang bersahabat ini membuat Tak Kie tetap relevan di tengah persaingan kedai kopi modern.

Tempat Wisata Kuliner dan Sejarah
Kedai ini kini menjadi bagian dari rute wisata kuliner Glodok yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan asing. Banyak turis datang karena penasaran ingin merasakan kopi berusia hampir seabad. Beberapa bahkan menjadikannya lokasi wajib ketika berwisata ke Kota Tua atau Petak Sembilan.
Lokasinya berada di Gang Gloria, kawasan yang terkenal dengan deretan kuliner legendaris seperti bubur kamseng, bakmi Aboen, dan gado-gado Direksi. Dengan berjalan kaki dari stasiun Kota, pengunjung bisa menemukan Tak Kie di antara gang sempit yang penuh aroma kopi dan masakan tradisional.
“Rasanya seperti menemukan potongan kecil dari masa lalu di tengah hiruk-pikuk Jakarta,”
ucap seorang turis asal Singapura yang tak bisa berhenti memotret interiornya.
Daya Tarik Visual yang sangat Instagramable
Bagi pecinta fotografi atau konten kreator, Kopi Es Tak Kie juga jadi surga visual. Interiornya yang vintage dengan warna-warna pastel alami dan perabot tua menciptakan nuansa retro yang autentik. Banyak influencer hingga fotografer profesional datang untuk mengambil gambar suasana klasik ini.
Menariknya, meskipun tempat ini sudah sering viral di media sosial, pemiliknya tidak berusaha mengubah desain interior. Mereka tetap mempertahankan tampilan lamanya karena ingin menjaga esensi sejarah.
Tantangan di Era Kedai Kopi Modern
Seiring menjamurnya kafe modern di Jakarta, Tak Kie tetap berpegang pada identitasnya. Mereka tidak menjual kopi dalam gelas plastik atau membuat versi kekinian seperti “kopi susu gula aren”.
Namun, itu bukan berarti mereka tertinggal. Justru karena keaslian itulah Tak Kie tetap bertahan. Banyak anak muda yang datang bukan hanya untuk ngopi, tapi untuk merasakan atmosfer yang tidak bisa ditemukan di kedai lain.
Di era di mana segalanya bisa dipesan lewat aplikasi, Tak Kie tetap setia dengan pelayanan manual. Tidak ada QR code di meja, tidak ada pesanan online. Semua harus datang langsung, duduk, dan menikmati.
“Keaslian adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli di zaman sekarang,”
kata salah satu pengunjung muda yang terlihat menikmati kopi sambil mendengarkan obrolan orang tua di sebelahnya.
Pengelolaan Generasi ke Generasi
Kini, Kopi Es Tak Kie dikelola oleh generasi ketiga keluarga Liong. Meski ada modernisasi kecil seperti penambahan kipas baru atau perbaikan meja, mereka tetap menjaga resep asli. Tidak mudah memang mempertahankan bisnis keluarga selama hampir satu abad, tapi Tak Kie membuktikan bahwa loyalitas pelanggan bisa mengalahkan tren.
Bagi banyak orang, kedai ini bukan sekadar bisnis, tapi simbol ketekunan. Beberapa pelanggan bahkan sudah datang sejak mereka masih kecil bersama orang tuanya, dan kini membawa anak-anak mereka ke tempat yang sama.
Pengaruh terhadap Budaya Ngopi di Jakarta
Keberadaan Kopi Es Tak Kie memiliki pengaruh besar terhadap budaya ngopi di Jakarta. Sebelum munculnya tren third wave coffee dan kafe artisan, Tak Kie sudah lebih dulu memperkenalkan konsep “ngopi sambil ngobrol”.
Tempat ini menjadi bukti bahwa kopi bukan hanya soal minuman, tapi tentang interaksi dan kenangan. Banyak pelaku bisnis kopi di Jakarta mengakui bahwa Tak Kie adalah inspirasi mereka dalam menjaga cita rasa dan pelayanan personal.
Daya Tarik bagi Kaum Muda
Meskipun tampil klasik, Tak Kie tetap diminati anak muda. Mereka datang bukan karena ingin tampil keren, tapi karena ingin merasakan sesuatu yang nyata. Di tengah banjir konten digital, Tak Kie menawarkan pengalaman analog yang jujur dan sederhana.
Beberapa mahasiswa bahkan sering datang untuk mengerjakan tugas sambil menyeruput kopi es legendaris. Suasana tenang dan tanpa gangguan musik keras membuat fokus lebih terjaga.
“Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Setiap teguk kopi mengingatkan bahwa kebahagiaan itu sederhana,”
ujar seorang pengunjung muda sambil tersenyum tipis.
Diincar Wisatawan Hingga Influencer
Dalam beberapa tahun terakhir, Kopi Es Tak Kie semakin dikenal luas. Banyak influencer kuliner dan travel blogger yang datang untuk mencicipi keunikan rasanya. Mereka tidak hanya membicarakan cita rasa kopi, tapi juga keotentikan suasana dan sejarah panjangnya.
Kedai ini bahkan menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Glodok. Dengan keunikan dan atmosfernya yang klasik, Tak Kie kerap menjadi latar foto yang menggambarkan “Jakarta lama” dalam bentuk paling autentik.






