Ready To Cook & Ready To Eat, Mana yang Lebih Berpeluang Di Pasar?

-

Ready to cook & ready to eat adalah dua istilah yang dipakai untuk menjual makanan siap saji. Secara singkat, perbedaannya adalah jika ready to cook masih harus melalui proses masak sebelum dikonsumsi jika ready to eat tidak. Keduanya tetap menjadi alternatif  di saat pandemi saat ini.

Baca juga: 5 Bisnis Startup yang Terdampak dari Pandemi Covid-19

Pemerintah dengan sigap mengambil keputusan untuk pemberlakuan kembali PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di berbagai wilayah kota besar, khususnya Jakarta. Keputusan ini diambil berdasarkan data statistik yang menunjukkan peningkatan jumlah korban virus covid-19. Selain itu, PPKM juga dimaksudkan agar masyarakat bisa memaksimalkan proses vaksinasi yang dianjurkan pemerintah.

Melihat kejadian ini, mau tidak mau akan berdampak lagi kepada laju perekonomian di Indonesia, khususnya para pebisnis f&b. Upaya yang dilakukan saat PSBB total di tahun lalu kemungkinan akan kembali terulang di PPKM kali ini. Bersusah payah mengakali penjualan dengan trik online delivery, marketing place, serta kemasan ready to cook maupun ready to eat.

Baca juga: 5 Cara Melakukan Promosi Online untuk Bisnis F&B

Bagi Anda yang baru saja menjalankan bisnis f&b dan harus merelakan tutup outlet sementara karena PPKM, tidak ada salahnya untuk mencoba strategi ready to cook ataupun ready to eat ini. Bagaimana dengan peminatnya? Jangan kuatir KawanKAWN. Strategi ini nyatanya mampu menjadi salah satu pilihan konsumsi terbaik bagi masyarakat selama masa pandemi.

Nah, kira-kira lebih menguntungkan ready to cook atau ready to eat ya? Jawabannya akan dikupas dalam artikel ini. KAWN akan berbagi informasi serta sudut pandang kepada Anda. Selamat membaca.

Baca juga: Bisnis Kopi Bikin Untung Tiap Hari

Ready To Cook & Ready To Eat, Memiliki Objektif Yang Sama

Source: pexels.com

Mengapa dikatakan sama? Karena memang keduanya bertujuan untuk memudahkan pelanggannya. Dari sisi pelanggan, nyatanya dapat menghemat tenaga dan waktu untuk memasak. Di tengah kesibukan untuk work from home disertai dengan mengurus keperluan rumah tangga lainnya, produk ready to cook dan ready to eat sangat meringankan beban ibu-ibu rumah tangga.

Ready to cook biasanya digemari pelanggan ibu rumah tangga yang sekaligus menjadi ibu pekerja. Sedangkan ready to eat lebih menarik perhatian pelanggan yang berstatus single dan dalam jangkauan usia muda. Nah, sudah lebih tergambarkan target market-nya?

Baca juga: Kerja Tetap Efektif Kala Work From Home

Siapkan Strategi Yang Tepat

Source: pexels.com

Sebelum memutuskan untuk membuat produk ready to cook atau ready to eat, Anda harus mempersiapkan beberapa strategi agar penjualan tetap maksimal. Simak tips berikut ini.

Baca juga: 10 Strategi Pemasaran Online yang Sudah Terbukti dan Wajib Anda Coba

Kemasan harus higienis

Tidak dapat dipungkiri kemasan yang menarik memang menjadi salah satu prioritas pelanggan. Namun, dikala pandemi saat ini prioritas menarik telah digeser oleh prioritas higienis. Ini disebabkan oleh perubahan pola hidup yang lebih sehat di kalangan masyarakat.

Kemasan yang aman & higienis dapat menjadi salah satu kunci untuk menjaga kualitas makanan yang dikemas di dalamnya. Karena wilayah distribusi yang menyebar, pebisnis harus benar-benar memerhatikan aspek ini dengan baik.

Kualitas bahan baku terjaga

Kemasan sudah higienis, kini saatnya pebisnis juga harus menjaga kualitas bahan baku makanannya. Pelanggan akan mengharapkan rasa makanan yang sama saat di makan secara langsung di outlet dengan makanan yang dikemas secara ready to cook maupun ready to eat.

Jaminan sertifikasi

Poin ini akan menambah nilai jual produk ready to cook maupun ready to eat Anda. Pelanggan akan semakin yakin untuk membeli produk yang sudah memiliki jaminan sertifikasi secara sah. Diantaranya adalah sertifikasi BPOM (Badan Pengawas Obat & Makanan), sertifikasi halal MUI, sertifikasi vegan, ataupun bisa dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Variasikan menu

Buat variasi menu agar pelanggan bisa memesan produk ready to cook maupun ready to eat Anda berulang kali. Kuncinya adalah menu rumahan yang biasa dikonsumsi. Dengan beraneka ragam bahan baku dan resep nusantara, dapat membantu Anda untuk mengolah menu-menu agar lebih bervariasi.

Pasarkan secara online

Ragam media sosial dapat membantu Anda untuk menjawab poin ini. Ditambah lagi dengan adanya marketplace yang sangat memudahkan para pebisnis untuk memasarkan produk. Kuncinya adalah berikan pelayanan terbaik sehingga pelanggan merasa nyaman untuk berbelanja produk ready to cook maupun ready to eat kepada Anda.

Penentuan Harga Jual

Source: pexels.com

Produk-produk ready to cook maupun ready to eat memang sedang digemari banyak masyarakat. Peluang ini dapat Anda manfaatkan untuk tetap memaksimalkan penjualan f&b. Berikut dua teknik penentuan harga jual yang paling sering digunakan:

Teknik  Markup Price

Teknik ini dilakukan dengan menambahkan jumlah persenan dari harga pembelian bahan baku. Hitung secara mendetail semua modal yang dikeluarkan, kemudian kalikan dengan berapa persen markup (keuntungan) yang Anda kehendaki.

Harga Jual = Harga Modal + (Harga Modal x Markup)

Teknik Margin Price

Teknik kedua ini dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu berapa besar harga jual produk yang Anda kehendaki. Harga jual tersebut kurangi dengan harga modal kemudian dibagi dengan harga jual tersebut. Hasil akhirnya dalam bentuk desimal yang dikonversi menjadi persentase jumlah keuntungan.

Margin = (Harga Jual - Harga Modal) / Harga Jual

Baca juga: Bagaimana Cara Menentukan Harga Jual Produk Agar Tidak Rugi?

Pemaparan di atas dapat dijadikan strategi untuk Anda yang hendak memulai strategi produk ready to cook maupun ready to eat. Semoga bermanfaat dan tetap nantikan artikel-artikel bisnis serta inspirasi seputar f&b berikutnya hanya di blog KAWN. Aplikasi kasir KAWN, satu harga berbagai fitur!