Bagi banyak orang, jajanan sekolah bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah kenangan masa kecil yang melekat di ingatan. Setiap gigitan mengingatkan kita pada masa-masa bermain di halaman sekolah, tertawa bersama teman, dan menunggu jam istirahat tiba hanya untuk antre di depan gerobak penjual favorit.
Di era 80-an, jajanan sekolah punya pesonanya sendiri. Sederhana, murah, tapi rasanya membekas hingga puluhan tahun kemudian. Tak ada istilah kemasan mewah atau merek besar, yang ada hanya rasa otentik dan aroma khas yang menguar dari panci, wajan, atau panggangan sederhana.
“Jajanan 80-an itu bukan sekadar rasa, tapi perjalanan waktu yang bisa kamu cicipi kembali lewat aroma dan gigitan kecil.”
Kini, banyak dari jajanan sekolah klasik itu mulai sulit ditemukan. Tapi kabar baiknya, sebagian besar bisa dibuat sendiri di rumah dengan bahan yang mudah didapat. Berikut ini lima jajanan sekolah legendaris era 80-an yang bisa Anda buat sendiri dan nikmati kembali nostalgia masa kecil.
1. Cilok, Si Bola Aci yang Tak Lekang oleh Waktu
Cilok, singkatan dari aci dicolok, adalah salah satu jajanan sekolah legendaris yang masih bertahan hingga kini. Meskipun sederhana, camilan ini punya rasa gurih kenyal yang membuatnya digemari lintas generasi. Di era 80-an, penjual cilok biasa berkeliling dengan gerobak kecil sambil membunyikan peluit khas yang jadi penanda.
Cilok terbuat dari tepung tapioka yang dicampur air panas, garam, bawang putih halus, dan daun bawang cincang. Adonan kemudian dibentuk bulat dan direbus hingga matang. Untuk versi modern, Anda bisa menambahkan isian seperti ayam cincang, keju, atau telur puyuh.
Sajikan cilok dengan bumbu kacang pedas manis yang khas. Bumbu inilah yang menjadi jiwa dari cilok. Campuran kacang tanah goreng, cabai, gula merah, dan sedikit air asam memberikan cita rasa khas yang membuat siapa pun sulit berhenti makan.
“Cilok adalah bukti bahwa kebahagiaan kadang datang dalam bentuk bulat kecil yang kenyal di tusukan bambu.”
Membuat cilok di rumah sangat mudah, dan cocok untuk camilan sore bersama keluarga. Rasanya yang kenyal berpadu dengan aroma kacang pedas akan langsung membawa Anda ke masa-masa istirahat sekolah yang riuh dan ceria.
2. Es Lilin Kacang Hijau, Segar dan Bikin Nostalgia

Di era 80-an, tak ada yang lebih menyegarkan selain menikmati es lilin sehabis main di bawah terik matahari. Dingin, manis, dan murah, es lilin adalah jajanan sekolah favorit anak-anak sekolah yang dijual hanya dengan beberapa ratus rupiah.
Versi klasik es lilin biasanya dibuat dari santan, gula merah, dan kacang hijau yang direbus hingga lembut. Campuran itu kemudian dituangkan ke plastik kecil, diikat dengan karet, dan dibekukan. Hasilnya, es lilin dengan rasa lembut dan aroma santan yang khas.
Kini, es lilin bisa dimodifikasi dengan berbagai rasa, seperti cokelat, stroberi, atau durian. Namun, es lilin kacang hijau tetap jadi primadona bagi mereka yang merindukan cita rasa masa lalu.
“Satu gigitan es lilin bisa membawa kita kembali ke masa di mana kebahagiaan datang dari rasa dingin yang menempel di ujung lidah.”
Cara membuatnya pun sederhana. Rebus kacang hijau hingga empuk, campur dengan santan dan gula, lalu tuang ke plastik kecil sebelum dimasukkan ke freezer. Hanya dengan bahan sederhana, Anda bisa menghadirkan kembali suasana sore tahun 80-an di rumah sendiri.
3. Telur Gulung, Si Bintang di Waktu Pulang Sekolah
Jika Anda sekolah di era 80-an hingga 90-an, pasti mengenal jajanan sekolah legendaris bernama telur gulung. Biasanya dijual di depan gerbang sekolah, makanan ini dibuat langsung di depan mata pembeli. Suara minyak panas, aroma telur, dan aksi penjual menggulung telur di tusuk sate selalu jadi tontonan menarik bagi anak-anak.
Untuk membuatnya di rumah, Anda hanya butuh telur ayam, sedikit garam, dan minyak goreng banyak. Kocok telur hingga berbusa, tuang ke wajan berisi minyak panas, lalu gulung cepat dengan tusuk sate. Kunci kelezatannya ada pada teknik menggulung dan panas minyak yang pas agar telur bisa mengembang dan renyah di luar tapi lembut di dalam.
“Telur gulung bukan sekadar jajanan sekolah, tapi pertunjukan kecil yang selalu ditunggu setiap kali pulang sekolah.”
Tambahkan saus tomat, sambal, atau mayones untuk rasa yang lebih modern. Meski sederhana, telur gulung tetap menjadi camilan favorit anak-anak hingga sekarang. Sensasi makan sambil berdiri di pinggir jalan sambil menunggu giliran selalu jadi bagian dari kenangan masa kecil yang hangat.
4. Kue Cubit, Si Manis Lembut yang Tak Pernah Hilang Pesonanya

Kue cubit adalah salah satu jajanan sekolah 80-an yang kini kembali naik daun. Bentuknya kecil, empuk, dan aromanya manis menggoda. Nama “kue cubit” berasal dari cara menyajikannya diambil dari cetakan menggunakan penjepit kecil, seolah dicubit.
Bahan utamanya sederhana: tepung terigu, gula, susu cair, telur, dan baking powder. Adonan kemudian dituangkan ke dalam cetakan kecil dan dimasak di atas api kecil hingga bagian bawahnya kecokelatan.
Versi klasik kue cubit biasanya disajikan polos atau diberi taburan meses. Namun kini banyak variasi modern seperti kue cubit green tea, red velvet, atau topping keju dan oreo. Meski begitu, aroma manis dan tekstur lembut versi jadul tetap jadi favorit bagi pencinta nostalgia.
“Aroma kue cubit yang keluar dari cetakan kecil itu seperti sinyal masa kecil yang datang lagi dalam bentuk manis dan hangat.”
Membuat kue cubit di rumah tidak memerlukan alat khusus. Cetakan bisa dibeli di pasar tradisional, dan bahan-bahannya mudah ditemukan. Menyajikannya hangat sambil menyeruput teh sore bisa menjadi cara terbaik untuk menikmati nostalgia 80-an yang lembut dan penuh kenangan.
5. Kue Leker, Renyah Tipis yang Selalu Dicari
Tak kalah ikonik, kue leker adalah jajanan sekolah khas era 80-an yang masih sering ditemui hingga kini. Bentuknya tipis, renyah, dan biasanya diisi dengan pisang serta cokelat meleleh. Dulu, penjual kue leker sering mangkal di depan sekolah atau di pasar malam, dan aroma wangi adonannya yang sedang dipanggang selalu membuat siapa pun tergoda.
Kue ini terbuat dari campuran tepung terigu, telur, susu cair, dan sedikit gula. Adonan dituang tipis ke atas wajan datar panas, lalu diberi isian pisang dan cokelat meses sebelum dilipat menjadi setengah lingkaran.
“Kue leker itu seperti kenangan masa kecil yang tipis tapi renyah, manis tapi sederhana, dan selalu bikin rindu.”
Meski terlihat sederhana, kue leker punya cita rasa khas yang sulit ditandingi. Ketika gigitan pertama terasa garing di luar dan lembut di dalam, aroma pisang dan cokelatnya langsung membawa memori masa lalu.
Di rumah, Anda bisa membuatnya dengan wajan anti lengket biasa. Kreasikan dengan topping modern seperti keju, karamel, atau selai kacang. Tapi bagi para pencinta nostalgia, rasa asli dengan pisang dan meses tetap tak tergantikan.
Jajanan 80-an, Cermin Sederhana dari Kebahagiaan Masa Kecil
Jajanan sekolah di era 80-an punya ciri khas yang sulit dilupakan: sederhana, dibuat dengan cinta, dan selalu punya cerita di baliknya. Tak ada pengawet, tak ada kemasan mencolok, hanya bahan alami dan rasa yang jujur.
Sebagian besar jajanan sekolah itu dibuat langsung oleh tangan-tangan ibu rumah tangga yang berjualan untuk membantu keluarga. Mereka bangun pagi, menyiapkan bahan, dan berdagang di depan sekolah dengan senyum tulus yang kini hanya bisa dikenang.
“Jajanan masa kecil bukan hanya soal rasa, tapi tentang orang-orang sederhana yang mengajarkan arti kerja keras dan kebahagiaan tanpa syarat.”
Ciri khas jajanan sekolah 80-an juga terlihat dari keunikan alat dan prosesnya. Tidak ada mesin modern, semua dikerjakan manual dari mengaduk adonan, menyalakan arang, hingga mengemas dengan daun pisang atau kertas minyak. Mungkin karena itulah rasanya selalu terasa lebih hangat dan istimewa.
Sekarang, ketika semuanya serba instan, membuat kembali jajanan sekolah era 80-an di rumah bisa menjadi cara sederhana untuk kembali merasakan kebahagiaan masa lalu. Tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk memperkenalkan generasi muda pada warisan kuliner yang pernah membuat masa kecil kita begitu berwarna.
“Membuat jajanan 80-an di rumah bukan hanya memasak, tapi memanggil pulang kenangan yang lama tertidur di sudut hati.”






