Pandemi Covid-19 menjadi titik balik besar bagi banyak sektor industri di Indonesia. Dalam waktu singkat, pola hidup masyarakat berubah drastis, begitu pula dengan cara bisnis Startup dijalankan. Sektor teknologi yang selama ini dianggap paling tahan krisis ternyata juga ikut terguncang. Dunia startup yang dikenal dinamis dan inovatif harus berhadapan dengan kenyataan pahit penurunan pendapatan, berkurangnya investor, hingga keharusan melakukan efisiensi besar-besaran.
Beberapa startup bahkan terpaksa menutup operasionalnya karena tidak mampu menahan dampak ekonomi dari pandemi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Stoqo Technologies, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang distribusi bahan baku restoran. Kasus Stoqo menjadi contoh nyata bahwa bahkan bisnis Startup berbasis teknologi sekalipun tidak kebal terhadap krisis global.
“Pandemi bukan hanya menguji daya tahan bisnis Startup, tapi juga sejauh mana inovasi bisa beradaptasi dengan kenyataan.”
Berikut lima bisnis startup besar yang terdampak berat akibat pandemi Covid-19, lengkap dengan kisah jatuh-bangunnya di tengah masa penuh ketidakpastian itu.
1. Stoqo Technologies, Startup Distribusi Bahan Baku yang Harus Tutup Operasional

Stoqo Technologies sempat menjadi bintang baru di dunia startup Indonesia. Didirikan pada 2017, Stoqo menawarkan solusi digital untuk membantu restoran dan pelaku F&B (Food and Beverage) memperoleh bahan baku segar dengan mudah. Lewat platformnya, para pemilik restoran bisa memesan kebutuhan dapur harian mulai dari sayur, daging, hingga bahan kering hanya melalui aplikasi.
Model bisnis Stoqo sangat menarik karena menghubungkan petani, distributor, dan pelaku bisnis kuliner secara langsung. Startup ini bahkan disebut-sebut sebagai “Tokopedia-nya bahan dapur”. Namun, ketika pandemi Covid-19 melanda pada awal 2020, bisnis Stoqo mengalami pukulan telak.
Kebijakan pembatasan sosial membuat banyak restoran tutup atau mengurangi operasionalnya. Permintaan bahan baku pun menurun drastis. Stoqo yang sebelumnya bergantung pada transaksi harian dari sektor F&B kehilangan sebagian besar pelanggannya dalam waktu singkat. Kondisi ini diperparah dengan terhentinya pasokan dari petani dan logistik yang terganggu akibat pembatasan wilayah.
Pada April 2020, Stoqo resmi menghentikan seluruh operasionalnya. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, karena sebelumnya Stoqo disebut sedang dalam tahap pertumbuhan yang menjanjikan.
“Kisah Stoqo mengingatkan bahwa dalam bisnis startup, inovasi hebat sekalipun tidak cukup tanpa daya tahan menghadapi krisis.”
Penutupan Stoqo menjadi pelajaran penting bagi ekosistem startup di Indonesia. Pandemi memperlihatkan bahwa model bisnis B2B (Business to Business) yang bergantung pada sektor tertentu sangat rentan terhadap perubahan mendadak di pasar.
2. Moka POS, Harus Beradaptasi di Tengah Tutupnya Ribuan Toko dan Restoran
Moka POS merupakan salah satu startup penyedia sistem kasir digital yang populer di Indonesia. Sebelum pandemi, Moka menjadi pilihan utama bagi ribuan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), terutama di bidang ritel dan kuliner. Dengan sistem Point of Sale (POS), Moka membantu bisnis startup mengelola transaksi, laporan keuangan, hingga inventori secara digital.
Namun pandemi mengubah segalanya. Ribuan toko, restoran, dan kafe yang menjadi pelanggan utama Moka harus tutup sementara. Hal ini membuat penggunaan layanan Moka turun signifikan. Meskipun transaksi digital meningkat di sektor e-commerce, pelaku bisnis offline yang bergantung pada layanan Moka justru terpukul.
Startup ini terpaksa menyesuaikan strategi. Mereka fokus membantu merchant beralih ke sistem online ordering dan pembayaran nontunai. Moka juga meluncurkan fitur baru untuk mendukung bisnis startup rumahan dan layanan pesan antar.
“Ketika pintu toko tertutup, inovasi digital harus menjadi jendela baru untuk bertahan.”
Moka menjadi contoh startup yang berhasil bertahan dengan adaptasi cepat. Meski pendapatan menurun di awal pandemi, strategi pivot ke arah digitalisasi bisnis startup membuat Moka tetap relevan di tengah perubahan pasar. Kini Moka yang sudah diakuisisi oleh Gojek tetap menjadi pemain penting dalam ekosistem layanan digital bisnis di Indonesia.
3. Traveloka, Startup Unicorn yang Harus Menahan Napas di Sektor Pariwisata

Traveloka adalah salah satu unicorn kebanggaan Indonesia di sektor pariwisata dan perjalanan. Namun tak ada sektor yang lebih terpukul oleh pandemi selain industri travel. Ketika pemerintah memberlakukan pembatasan perjalanan domestik dan internasional, bisnis startup inti Traveloka praktis lumpuh total.
Tiket pesawat, hotel, hingga paket liburan mengalami pembatalan massal. Dalam waktu singkat, Traveloka kehilangan hampir seluruh pendapatannya. Tantangan terbesar bukan hanya kehilangan pelanggan, tapi juga keharusan mengembalikan dana refund dalam jumlah besar kepada jutaan pengguna.
Untuk bertahan, Traveloka melakukan efisiensi internal besar-besaran. Perusahaan mengurangi aktivitas promosi, memangkas biaya operasional, dan menyesuaikan strategi bisnisnya. Mereka kemudian memperluas layanan ke arah produk keuangan digital seperti Traveloka PayLater dan layanan hiburan lokal.
“Ketika dunia berhenti bepergian, Traveloka belajar menemukan jalan baru menuju masa depan.”
Meski sempat terseok, Traveloka berhasil bangkit secara perlahan seiring dengan dibukanya kembali sektor pariwisata pada 2021. Pandemi menjadi ujian terberat dalam sejarah perusahaan tersebut, tapi juga menjadi momen penting untuk memperkuat fondasi bisnis non-travel yang kini menjadi sumber pendapatan baru.
4. OYO Indonesia, Harus Menghadapi Tantangan Besar di Industri Perhotelan
OYO Indonesia yang dikenal sebagai jaringan hotel budget digital juga mengalami masa sulit ketika pandemi melanda. Dengan model bisnis startup yang bergantung pada tingkat okupansi hotel, OYO menjadi salah satu perusahaan paling terdampak ketika masyarakat berhenti bepergian.
Ribuan hotel mitra kehilangan tamu dalam waktu singkat. Pendapatan anjlok hingga lebih dari 60 persen di beberapa wilayah. Beberapa pemilik hotel memilih menghentikan kerja sama karena tidak sanggup menanggung biaya operasional.
Namun, OYO mencoba bertahan dengan melakukan efisiensi besar-besaran dan memperluas layanan ke arah sewa jangka panjang serta akomodasi karantina. Mereka juga meluncurkan program kebersihan dan keamanan untuk membangun kembali kepercayaan pelanggan.
“Bisnis startup perjalanan mengajarkan kita arti kesabaran karena setiap badai pasti berlalu, begitu juga pandemi.”
Meski mengalami penurunan besar, OYO tetap eksis hingga sekarang dengan model bisnis startup yang lebih fleksibel. Pengalaman selama pandemi membuat perusahaan ini lebih siap menghadapi perubahan permintaan dan kondisi ekonomi di masa depan.
5. Zenius Education, Ketika Euforia Online Learning Tak Bertahan Lama
Sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling cepat beradaptasi selama pandemi. Banyak startup edtech (education technology) menikmati lonjakan pengguna karena sekolah beralih ke sistem daring. Salah satunya adalah Zenius Education, platform pembelajaran online yang sempat mengalami peningkatan trafik luar biasa di awal pandemi.
Namun seiring berjalannya waktu, tantangan mulai muncul. Euforia belajar online menurun ketika siswa mulai mengalami kelelahan digital dan sekolah tatap muka kembali dibuka. Selain itu, persaingan di sektor edtech semakin ketat dengan munculnya pemain besar seperti Ruangguru, Pahamify, hingga startup global yang masuk ke pasar Indonesia.
Zenius menghadapi tekanan berat untuk mempertahankan pertumbuhan. Biaya operasional yang tinggi dan pendapatan yang menurun membuat perusahaan harus melakukan efisiensi besar-besaran.
“Belajar dari pandemi, bahwa teknologi pendidikan bukan hanya soal aplikasi, tapi bagaimana menjaga semangat belajar manusia.”
Meskipun demikian, Zenius tetap mencoba bertahan dengan berinovasi. Mereka memperkenalkan program Zenius untuk sekolah dan memperluas layanan ke bidang asesmen pendidikan. Namun pandemi tetap meninggalkan jejak besar dalam model bisnisnya.
Startup dan Realita Setelah Pandemi: Antara Adaptasi dan Seleksi Alam
Pandemi Covid-19 seolah menjadi ujian besar bagi ekosistem startup di Indonesia. Banyak perusahaan rintisan yang sebelumnya mendapat pendanaan besar dari investor kini harus berjuang untuk bertahan hidup.
Fenomena seperti Stoqo Technologies menunjukkan bahwa model bisnis startup inovatif sekalipun bisa tumbang jika terlalu bergantung pada satu segmen pasar. Sebaliknya, startup yang cepat beradaptasi seperti Moka dan Traveloka berhasil menemukan jalan keluar melalui diversifikasi layanan.
Pandemi juga mengubah cara investor memandang dunia startup. Jika sebelumnya banyak fokus pada pertumbuhan agresif, kini perhatian lebih diberikan pada keberlanjutan dan profitabilitas. Ekosistem startup dipaksa menjadi lebih realistis, fokus pada efisiensi, dan membangun nilai jangka panjang.
“Pandemi adalah guru yang keras, tapi darinya banyak startup belajar cara bertahan dengan lebih cerdas.”
Kini, beberapa sektor baru mulai tumbuh pascapandemi, seperti health tech, logistics tech, dan fintech. Namun kisah startup yang tumbang di masa pandemi tetap menjadi pengingat bahwa dalam dunia bisnis startup modern, inovasi dan ketahanan harus berjalan beriringan.
Pelajaran dari Kasus Stoqo Technologies dan Startup F&B Lainnya
Jika menelusuri lebih dalam, Stoqo Technologies bukan satu-satunya startup di sektor F&B yang terdampak. Banyak startup logistik dan pasokan bahan makanan mengalami kesulitan serupa karena rantai pasok terganggu. Namun, Stoqo menjadi simbol kegagalan yang paling banyak dibicarakan karena sebelumnya dianggap sebagai model bisnis startup masa depan untuk industri kuliner.
Dengan platform yang memudahkan restoran memesan bahan baku secara online, Stoqo sempat mendapat perhatian besar dari investor. Namun ketika restoran berhenti beroperasi karena pembatasan sosial, alur permintaan pun terputus total. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap satu jenis pelanggan bisa menjadi risiko fatal bagi startup manapun.
“Inovasi yang hebat tidak cukup tanpa kemampuan membaca perubahan perilaku pasar.”
Kisah Stoqo menjadi pelajaran penting bagi startup masa kini untuk membangun bisnis startup yang lebih adaptif dan tangguh. Banyak perusahaan serupa kini mulai menerapkan model hybrid dengan menjangkau segmen rumah tangga, bukan hanya restoran atau hotel. Pendekatan ini terbukti lebih fleksibel menghadapi perubahan pasar.
Pandemi Sebagai Momentum Transformasi Ekosistem Startup Indonesia
Dari sisi makro, pandemi Covid-19 memang memberikan pukulan keras, namun juga membuka pintu baru bagi inovasi digital. Banyak startup yang justru lahir di tengah krisis, membawa solusi baru untuk masalah sehari-hari, mulai dari logistik rumahan, e-grocery, hingga layanan kesehatan digital.
Kisah startup seperti Stoqo, Moka, Traveloka, OYO, dan Zenius menunjukkan spektrum luas dampak pandemi — dari kegagalan total hingga kebangkitan lewat adaptasi. Ekosistem startup Indonesia kini memasuki era baru yang lebih matang, di mana fokus bukan hanya pada pertumbuhan cepat, tetapi juga ketahanan dan keberlanjutan.
“Setiap krisis menyisakan ruang kosong, dan di sanalah inovasi baru lahir untuk mengisi kekosongan itu.”
Dengan pengalaman pandemi, para pendiri startup kini lebih siap menghadapi ketidakpastian. Dunia bisnis startup berubah, tetapi semangat untuk berinovasi tetap hidup. Dan seperti yang dibuktikan oleh banyak perusahaan rintisan Indonesia, bahkan setelah badai besar berlalu, masih selalu ada peluang baru bagi mereka yang mau bangkit dan belajar.






